Kota Bekasi | 28 September 2020
TMSF – Organisasi masyarakat Forum Komunikasi Anak Betawi (FORKABI) tingkat Dewan Pimpinan Daerah (DPD) kotamadya Bekasi kota senin malam selasa tanggal 28 september 2020 Acara haul yang ke 2 almarhum H, asmawi bin H, abu hasan Orang tua ketua DPD forkabi kota Bekasi bang H, marzuki asmawi AMd .

Ratusan anggota Forkabi dan jajaran pengurus perwakilan Forkabi se-jabodetabek (jakarta, bogor, depok, tangerang, bekasi) menghadiri acara haul di kediaman rumah H. Marzuki yang di awali tahlil, tahmid dan Maulid Nabi Muhammad SAW serta Tausyiah Agama begitu juga sambutan- sambutan lainnya.
Dalam acara haul yang di hadiri oleh ratusan anggota forkabi pastinya mengikuti protokol kesehatan dari pemerintah, 3M: Mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak.







HAUL
Haul merupakan tradisi peringatan kematian seseorang yang diadakan setahun sekali dengan tujuan mendoakan ahli kubur agar semua amal ibadah yang dilakukannya diterima Allah sekaligus mengenang keteladanan semasa hidup dari tokoh yang diperingati tersebut[1].
Tradisi haul biasanya hanya ditemui di kalangan masyarakat Muslim sunni seperti dinegeri Yaman, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan negara-negara lain dengan komunitas muslim sunni lainnya.
Peringatan haul sangat dipengaruhi oleh ajaran tasawuf yang menempatkan guru sebagai panutan atas dedikasi pengajaran ilmu terhadap masyarakat umum dan murid-muridnya, sehingga kewafatan mereka layak diperingati oleh keluarga dan murid-muridnya untuk mengenang keteladanan dan keutamaan tertentu yang tak dimiliki sembarang orang pada masa hidupnya. Di lansir dari wikipedia.com
AWAL MULA HAUL
Tak ada penjelasan pasti kapan tradisi haul pertama kali dilaksanakan, namun haul diyakini pertama kali berkembang di kalangan masyarakat muslim di Hadramaut, Yaman. Di kawasan tersebut, masyarakat terstratifikasi dalam kelas-kelas sosial yang berdasarkan latar belakang keturunan yakni para sayyid atau keturunan Nabi Muhammad yang berada di jajaran paling atas strata sosial, masyayikh atau keturunan tokoh pemikir Islam yang tidak punya latar belakang keturunan Nabi Muhammad, qabail atau anggota suku-suku terkemuka, dan masaakin atau orang-orang miskin yang tak punya ilmu, harta, maupun latar belakang keturunan seperti kelompok lain yang disebutkan sebelumnya[5][6].
Sebagai keturunan Nabi Muhammad sekaligus lebih memiliki akses terhadap ilmu pengetahuan, para sayyid memegang peranan kunci sebagai pemimpin spiritual dan panutan masyarakat luas. Ritual dan aspek kehidupan religius lain masyarakat umum akan sangat bergantung pada para sayyid bahkan juga terhadap para sayyid yang telah wafat, mereka diyakini sebagai perantara dari doa-doa masyarakat kepada Allah dan perantara syafa’at dari Nabi Muhammad[6]. Di lansir dari wikipedi.com